Archangel of Kindness

Full Name: Zadkiel
Aliases: Ziel, Kiel
Gender: Laki-laki
Age: ??? tahun
Species: Archangel
Origin: Celestial
Notable Abilities: Time, Glass
Notable Weapons: Catalyst
Occupation/Affiliation: Timekeeper, Kindness, Celestial
| Power | 80 |✦✦✦✦ | | --- | --- | | Defense | 90 |✦✦✦✦✦ | | Intelligence | 100 |✦✦✦✦✦ | | Healing | 80 |✦✦✦✦ | | Agility | 100 |✦✦✦✦✦ |
“Adikku memiliki kepribadian ganda. Yang pendiam bernama Ziel, yang gila Kiel. Tapi jangan sesekali biarkan ia dengar kalau kau menganggapnya dua orang. Dia bisa membunuhmu.” - Uriel
Birthplace : Garden of Eden, Celestial
Current Home : Garden of Eden, Celestial
Zadkiel lahir sebagai anak keenam dari delapan bersaudara. Sifatnya serupa seperti Uriel waktu ia kecil, sangat pendiam untuk ukuran bayi. Sama sekali tidak menangis, tidak melempar tantrum sekali pun. Zadkiel biasanya diurus langsung oleh Jophiel, kakaknya yang sudah remaja.
Sewaktu kecil, Zadkiel sering merangkak ke arah sungai susu sendirian tanpa pengawasan. Beberapa kali ia menggunakan kekuatannya secara tidak sadar untuk ‘bermain’, menciptakan serpihan kaca yang cukup tajam bahkan untuk melukai malaikat. Maka dari itu, kakak-kakaknya menjaga Zadkiel dengan ketat.
Masa remaja Zadkiel tergolong unik? Dibanding dengan masa kecilnya yang pendiam, ia justru lebih banyak bicara saat remaja. Sifat usilnya mulai muncul, bahkan beberapa kali mengerjai kakak dan adiknya. Ia senang sekali mengolok-olok Camael, adiknya yang baru lahir, hingga menangis dan merengek kencang.
Zadkiel berkembang menjadi seorang pria yang matang, kebaikan hatinya membuat ia dikenal oleh banyak malaikat. Meski begitu, Zadkiel dewasa masih sempat-sempatnya menyisakan waktu untuk mengusili kakak dan adiknya seperti ketika ia masih remaja. Namun, masa-masa indah itu berputar setelah pemberontakan Lucifer.
Tanpa disadari, Seraphim mengutuk Zadkiel untuk ‘pecah’ bersamaan dengan Jophiel yang dikutuk untuk merasakan cinta. Pecah… Zadkiel merupakan pribadi dengan personaliti mendekati sempurna. Justru dibandingkan dengan saudaranya yang lain, Zadkiel lebih mudah bergaul dan diterima oleh orang lain. Dan Seraphim memecahkannya.
Zadkiel mengalami konflik dalam dirinya sendiri sejak ia dikutuk. Ia merasakan dirinya terbelah menjadi dua, dengan ego masing-masing yang tidak mau kalah. Rasanya, Zadkiel seperti melindungi dirinya sendiri ketika dirinya yang lain berusaha untuk membunuhnya. Pergantian personaliti itu tidak dapat dikira-kira oleh siapa pun, membuat semuanya kesulitan akan kondisi Zadkiel yang sekarang.