Prince of Pride

Full Name: Ramiel
Aliases: Ami
Gender: Laki-laki
Age: 700 tahun
Species: ‘Fallen’ Archangel
Origin: Aeternus Daim
Notable Abilities: Lightning, Storm
Notable Weapons: Catalyst
Occupation/Affiliation: Pangeran Aeternus Daim, Pride, Jinnestan
| Power | 8 |✦✦✦✦ | | --- | --- | | Defense | 6 |✦✦✦ | | Intelligence | 7 |✦✦✦✦ | | Healing | 7 |✦✦✦✦ | | Agility | 8 |✦✦✦✦ |
Dua pasang sayap berwarna hitam muncul dari punggungnya. Bulu-bulu hitam bertebaran di langit, terlihat magis diterpa bulan. Sosok di hadapan mereka bukanlah seorang iblis. “…Ramiel. Pangeran Pride. Serpihan jiwa Lucifer.”
Birthplace : Aeternus Daim, Jinnestan
Current Home : Aeternus Daim, Jinnestan
Ramiel dilahirkan oleh Lucifer di kegelapan yang rasanya berjalan berabad-abad. Selama ia bayi, Lucifer memberinya nutrisi melalui nektar yang keluar dari jemarinya. Ramiel kecil tidak pernah rewel dan selalu jadi anak yang pendiam, mengikuti kemana pun ayahnya pergi seperti anak ayam. Ia tidak begitu mengerti alasan mengapa Lucifer seperti mengabaikannya, seolah-olah Ramiel tidak hadir di sana.
Ramiel kecil suka bermain sendiri dengan mainan khayalannya di dimensi yang dibuat oleh Lucifer sebagai rumah mereka, yang sebenarnya tidak begitu layak untuk disebut rumah karena hanya terdiri dari sebuah dimensi gelap. Terkadang Ramiel sering masuk ke hutan di Aeternus Daim untuk mengambil dan mencoba beberapa buah-buahan yang terlihat menarik di matanya, meski setelah itu Lucifer selalu memarahinya.
Ramiel berusia belasan tahun ketika mengetahui bahwa kehadirannya di sana ‘dirancang’ oleh Lucifer sebagai medium yang akan digunakan ayahnya untuk memindahkan jiwanya dari raga asli Lucifer yang telah melemah. Itu menjelaskan pertanyaan Ramiel selama ini: mengapa ayahnya tampak tidak peduli dengannya? Rupanya ia ‘hidup’ hanya untuk ‘mati’.
Berada di sisi ayahnya sepanjang ia hidup, meski diabaikan, membuatnya merasa aman jika ia tinggal dengan Lucifer. Saat Lucifer pergi untuk acara besar di kapal pesiar, Ramiel merasakan sebuah bahaya yang mengakibatkan ia berenang menyebrangi Cocytus sendirian, kemudian tenggelam dan diselamatkan oleh pangeran yang lain.
Ramiel tidak memiliki cara komunikasi yang bagus karena Lucifer sendiri jarang mengajaknya untuk mengobrol. Maka dari itu, ia lebih sering bicara dengan Bahasa Celestial (bahasa asli Lucifer) dan logatnya yang terdengar kental saat berbicara dengan Bahasa Jinnestan.
Setelah kejadian itu, Lucifer mulai meluluhkan diri dan memutuskan untuk menerima Ramiel sebagai anaknya. Ramiel merasakan nyeri pada jantungnya setelah perjalanan itu, ia seringkali mengeluhkan suara dan memori dua orang yang tidak ia kenal kerap muncul dalam otaknya. Nyatanya, hal tersebut disebabkanoleh konflik batin milik Lucifer dan Michael yang masih menegang hingga sekarang, membuat Ramiel menjadi korbannya.