Prince of Sloth

Full Name: Morax
Aliases: Domba
Gender: Laki-laki
Age: 220 tahun
Species: Bangsawan Iblis
Origin: Lapsae Caelum
Notable Abilities: Wind
Notable Weapons: Bow
Occupation/Affiliation: Pangeran Lapsae Caelum, Sloth, Jinnestan
| Power | 7 |✦✦✦✦ | | --- | --- | | Defense | 6 |✦✦✦ | | Intelligence | 9 |✦✦✦✦✦ | | Healing | 6 |✦✦✦ | | Agility | 9 |✦✦✦✦✦ |
“Hah, introduksi? melelahkan saja. Salam kenal, aku Morax, putra tunggal raja Belphegor.”
Birthplace : Lapsae Caelum, Jinnestan
Current Home : Lapsae Caelum, Jinnestan
Morax adalah anak kecil yang sangat ceria dan memiliki hubungan sangat harmonis dengan keluarganya. Belphegor dan Vassago diketahui sering meluangkan waktu mereka yang padat dari pekerjaan untuk tamasya bersama dua anak mereka, Morax dan Furfur. Keempatnya senang berjalan-jalan dan tidur di bawah pohon yang rindang, berjarak tidak jauh dari istana tempat mereka tinggal.
Masih menjadi anak yang rewel dan manja, Morax seringkali memberontak ingin terus berada di bawah pohon tersebut. Belphegor dan Vassago tidak dapat menolak permintaan putra sulung mereka, hingga akhirnya Morax mereka izinkan untuk bermain ke tempat kesukaannya di bawah pengawasan Stolas, pelayan pribadinya.
Ketika Morax berusia tujuh tahun, ia terbangun dari tidurnya di bawah pohon karena mendengar seseorang yang mendekat. Ia dengan kesal meladeni seorang remaja yang mengenalkan dirinya sebagai Astaroth. Beberapa kali anak yang lebih tua itu mengejeknya karena ia memiliki tubuh yang pendek. Astaroth mengatakan padanya bahwa ia harus segera pergi sebelum ayahnya mencarinya. Sejak saat itu, Morax selalu menantikan kehadiran ‘kakak dari laut’ yang jahil itu.
Masa remaja Morax berputar 180 derajat. Ia baru berusia 14 tahun ketika semua insiden itu terjadi. Ibunya, Vassago, adalah sosok paling cerdas di Jinnestan. Semua strategi perang dan perkembangan teknologi berasal dari Ratu Sloth, dan hal inilah yang membuat wanita itu menjadi incaran sebuah organisasi pemberontak di Lapsae Caelum.
Istana Sloth diserang oleh komplotan penjahat dari berbagai sisi, mengepung mereka di malam hari. Saat itu, Morax terbangun dari tidurnya dan dengan panik mencari Sang Ayah. Sementara itu, Furfur yang masih berusia tujuh tahun mengikuti sisi ibunya. Mereka terpecah menjadi dua kubu, hingga Belphegor memerintahkan Morax untuk berlari menyelamatkan diri karena sisi kiri istana telah didominasi musuh.
Menuruti perintah ayahnya, Morax berlari ke sisi kanan dan keluar istana, berusaha menulusuri jejak adik dan ibunya yang mengarah ke hutan gelap. Berharap mereka berhasil menyelamatkan diri, namun takdirnya berkata lain. Morax menemukan adiknya tergeletak sekarat di atas tanah, matanya dipenuhi permohonan untuk mati. Morax memeriksa keadaan adiknya yang rupanya telah diracun dengan ramuan kuat, namun tidak cukup lethal untuk membunuh seorang bangsawan, menghasilkan sebuah nyeri luar biasa. Dengan pemaksaan Furfur, Morax membunuh adik perempuannya di tempat, kemudian menemukan jasad ibunya tidak jauh dari sana.